Mencicipi Roti Kembang Waru, Kuliner Mewah Zaman Mataram Islam


0
Mencicipi Roti Kembang Waru, Kuliner Mewah Zaman Mataram Islam

Mencicipi Roti Kembang Waru, Kuliner Mewah Zaman Mataram Islam – Yogyakarta memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah masa lalunya. Dahulu, di tanah Yogyakarta pernah berdiri kerajaan-kerajaan besar yang berjaya di masanya.

Mataram Kuno dan Mataram Islam menjadi dua kerajaan besar yang pernah berjaya di wilayah Yogyakarta. Meski sama-sama bernama Mataram, keduanya merupakan kerajaan yang berbeda.

Baca juga: Liburan Ke Yogyakarta, Jangan Lewatkan Berkunjung Ke Agrowisata Ini

Mataram Kuno berdiri pada abad ke-8, sementara Mataram Islam berdiri pada abad ke-17. Kini Mataram pun tak hanya sekedar cerita sejarah semata. Ada banyak peninggalan sejarah yang masih bisa ditemukan.

Untuk peninggalan Mataram Islam, salah satu yang kini masih bisa dijumpai adalah kuliner tradisional. Sajian tersebut adalah roti kembang waru yang bisa ditemukan di kawasan ibu kota pertama kerajaan ini, Kotagede.

Tempat roti ini dibuat saat ini ada di Kampung Bumen yang terletak sekitar 500 meter timur laut Pasar Kotagede. Ada 20 pembuat roti kembang waru di kampung ini yang beranggotakan 23 keluarga, salah satunya adalah Basiran Basis Hargito.

Sajian untuk acara kerajaan

Ketika ditemui JelajahPagi, pria yang disapa Basis ini mengatakan kalau pada zaman dahulu, roti ini biasa disajikan ketika keraton sedang menggelar acara seperti mitoni, selapanan, tekanan, manten, atau lamaran.

Nama kembang waru pada roti ini dikarenakan bentuknya yang menyerupai bunga waru. Diceritakan dahulu di sekitar Keraton Kotagede terdapat banyak pohon waru yang berbunga, tetapi tidak produktif.

Selain tidak pernah berbuah, kayu pohon waru pun tidak cocok jika dipakai untuk bahan kontruksi bangunan, Juru masak kerajaan pun membuat cetakan roti dari bunga waru karena mudah untuk ditiru.

Pria yang mulai membuat roti kembang waru sejak 1983 ini menjelaskan, saat ini bahan pembuat roti sedikit mengalami perubahan. Jika zaman dulu menggunakan telur kampung dan tepung ketan, maka sekarang bahannya dari telur ayam petelur dan tepung terigu.

Sementara untuk pewanginya, jika dahulu menggunakan daun pandan, maka sekarang ini menggunakan vanili. Meski demikian, rasa dan kualitasnya tetap terjaga seperti aslinya.

Empuk, wangi dan manis

Basis melanjutkan, untuk menjaga rasa dan kualitas, maka teknik memasak roti kembang waru masih menggunakan cara tradisional. Kompor untuk memasak roti ini masih memakai arang, bukan gas ataupun minyak.

Pembuatan roti ini dilakukan dengan memasukkan adonan ke dalam semacam oven tradisional. Ia menjelaskan, cara inilah yang menjaga roti kembang waru tetap sama seperti aslinya.

Setelah matang, maka adonan dikeluarkan dari oven dan jadilah roti kembang waru. Saat dimakan, roti ini begitu empuk dengan aroma yang wangi dan rasanya pun manis.

Saat ini, roti kembang waru masih banyak dipesan masyarakat yang akan mengadakan acara. Harga per satu roti saat ini adalah Rp 2.000 saja.

Baca juga: 9 Kuliner Pilihan Di Jawa Timur Yang Sejalur Tol Trans-Jawa

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
loginjw

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format